BAGIAN 1: Menyikapi Kehilangan

Kehilangan Beberapa hari yang lalu, aku baru saja kehilangan barang yang berharga dalam hidupku. Aku kehilangan tas yang berisi laptop...

Kehilangan


Beberapa hari yang lalu, aku baru saja kehilangan barang yang berharga dalam hidupku. Aku kehilangan tas yang berisi laptop, kamera, gear fit samsung, harddisk, parfurm dan pomade haha.

Ketika aku hendak menuju Sekretariat 1001buku untuk mengurus sesuatu dan mengajari anak-anak agar bisa menulis dengan baik, aku kehilangan tasku yang berisi beberapa barang berharga di atas kereta.

Kronologisnya begini.

Aku tiba di Stasin Bogor dan Aku segera menaiki kereta jurusan Bogor - Jakarta Kota, sekitar pukul 9 lewat. Aku menyusuri beberapa gerbong untuk mencari kursi yang kosong. Akhirnya aku dapat kursi kosong di gerbong nomor enam. Aku duduk di dekat pintu dan membuka tas-ku mengambil buku yang akan aku baca hari itu. Kemudian, tas aku taruh di atas, tempat untuk menaruh barang bawaan yang sudah disediakan oleh Commuter Line, PT. KAI untuk para penumpangnya.

Aku fokus membaca Novel. Kedua telingaku aku sumpal dengan earphone. Tak ada suara apapun yang keluar dari earphone. Ini aku lakukan untuk meredam suara dari luar agar tak terlalu berisik di telingaku. Aku membaca novel dengan seksama. Novel yang aku baca berjudul Siti Hajar, karya Sibel Eraslan. Novel dengan begitu banyak kata kiasan dan latar belakang tempat yang aku rada sulit membayangkannya. Ya, karena aku biasa membaca novel modern, dengan latar belakang suatu kota yang maju dan sejenisnya.

Stasiun tujuanku adalah stasiun tebet. Dari Bogor menuju stasiun Tebet menghabiskan waktu sekitar satu jam perjalanan. Itu aku habiskan dengan membaca novel. Sangat fokus hingga mengabaikan sekitar. Mengabaikan bukan berarti aku mengabaikan penumpang yang harusnya memiliki hak untuk duduk jadi terabaikan. Tapi memang saat itu hampir tak ada penumpang yang berdiri.

Pengeras suara dalam kereta memberikan informasi bahwa kereta sudah tiba di stasiun Cawang. Pintu terbuka dan kembali tertutup dengan jeda waktu sekitar dua menit. Aku yang menyadari sebentar lagi sampai stasiun tebet, menghentikan aktifitas membaca dan menutup novel. Aku bangkit dari tempat duduk-ku untuk memasukkan novel kembali ke dalam tas. Ketika aku hendak mengambil tas yang berada di atas, tiba-tiba saja tak ada wujudnya. Aku sedikit kaget, dan bertanya ke penumpang sebelahku, "Mas-Mba, lihat tas aku di atas ngga?", mereka dengan nada santai menjawab, "engga ada mas, sejak kami duduk tak ada tas diatas"

Oke, memang aku menyadari mereka berdua baru saja duduk di sebelahku. Jadi aku percaya dengan pengakuan yang mereka berikan. Mereka menjawab dengan tenang karena aku menanyakannya dengan tenang juga.

Setelah tau seperti itu, aku menyusuri gerbong ke arah depan kereta melaju. Tujuanku untuk mencari petugas, meminta bantuan. Tiga gerbong aku lewati, tidak ada petugas sama sekali. Dan ada batas gerbong disitu yang tak bisa aku lewati. Kemudian aku kembali ke gerbong awal. Menanyakan orang-orang yang ada di sekitar. Jawaban mereka sama, tidak melihat dan tidak memperhatikan ada gerak gerik yang mencurigakan. Dan pengeras suara kereta menginformasikan bahwa kereta sudah tiba di stasiun tebet.

Aku segera turun dan melihat petugas berada di depan pintu keluarku. Aku segera bertanya, "Mas, untuk mengurus barang yang hilang di kereta harus kemana ya?" petugas menjawab, "hilang atau ketinggalan mas?", " hilang mas, kalau ketinggalan kan aku bisa naik lagi" jawabku santai. "Mas bisa ke pusat informasi yang ada di dekat pintu keluar. dan informasikan kereta ini ke petugas", "Oke mas, terima kasih"

Aku melangkahkan kaki dengan santai menuju pusat informasi. Aku hanya ingin menanyakan solusi apa yang bisa mereka berikan ketika terjadi hal seperti ini. Dan ternyata memang tidak ada solusi yang menguntungkan. Karena kehilangan barang tidak bisa mereka atasi. Jika barang ketinggalan ada kemungkinan untuk diselamatkan. Tapi kalau sudah hilang dicuri, ya wassalam...

Petugas seolah tak percaya bahwa aku kehilangan barang, Karena aku terlihat begitu santai dan tidak panik. Mereka menanyakan, apa saja barang yang ada dalam tas. Aku jawab saja, ada laptop, kamera, gear fit samsung, harddisk, beberapa buku dan gamis.

Beberapa teman di chat pun yang tau kabar ini menanyakan apakah aku panik atau tidak. Apakah mewek atau tidak, apakah marah atau tidak, dan ungkapan wajar ketika kehilangan barang berharga.

Aku menjawab tidak.

Ya, untuk apa panik dalam kondisi seperti ini? toh panik tak akan membuat masalah jadi membaik. Apalagi marah, toh dengan marah ngga bisa bikin barang yang hilang itu kembali lagi. Apalagi mewek, haha, untuk apa mewek? da ngga bikin kondisi membaik.

Aku hanya menerima apa yang terjadi dengan lapang dada. Dan kembali melanjutkan agenda-ku seperti semula. Menuju Sekretariat 100buku untuk mengurus sesuatu dan mengajarkan anak-anak menulis. Kemudian kembali ke Bogor, bertemu dengan beberapa orang dari teman di media sosial untuk bertukar pikiran membuat sesuatu yang bermanfaat.

Sampai detik ini pun, aku tetap tabah menghadapi musibah ini. Karena aku melihat musibah ini dari sudut pandang yang lain. Ya, meskipun aku kehilangan data-dataku, draft-draft buku yang sedang aku tulis. Dan outline serta naskah buku yang sedang aku garap juga lenyap seketika, aku bisa apa? toh di pikirkan juga tak akan bikin barang yang hilang kembali lagi. Cukup melihat dan menyikapi kejadian ini dengan sudut pandang yang lain. Berikut sudut pandangku,

Bisa jadi, ini teguran dari Allah, karena sudah begitu banyak dosa yang aku perbuat. Jadi, Allah menegurku agar aku intropeksi dan bermuhasabah memperbaiki diri. Insyaallah akan selalu aku lakukan. Dan semoga kehilangan ini menjadi penggugur dosa.

Mungkin juga, rezeki aku untuk memakai barang-barang itu sudah habis waktunya. Kan rezeki itu apa yang kita pakai, apa yang kita makan dan apa yang kita rasakan. Dan mungkin dua tahun sudah cukup bagiku memakai barang-barang itu. Jadi Allah ambil kembali rezeki itu.

Mungkin juga karena beberapa waktu belakangan ini aku selalu mendengar ceramah gurunda Aagym dan juga sering menulis tentang hati. Menerima apa yang terjadi dan ilmu sejenisnya. Jadi, Allah coba apakah itu hanya sekedar teori saja? bagaimana ketika Allah uji dengan kehilangan yang sebenarnya, kehilangan benda yang paling di sayang. Apakah akan menangis, panik, marah, tidak menerima ataukah sebaliknya. Dan Alhamdulillah reaksiku sebaliknya. Dan Aku yakin, Allah sudah tau bahwa Aku pasti akan bisa melewati ujian darinya. Bahwa ilmu-ilmu yang aku dapatkan juga aku praktekkan ketika musibah itu terjadi.

Dan bisa juga, Allah ingin menyadarkan aku, bahwa semua ini hanyalah titipan. Dan bagaimana reaksiku ketika titipan itu diambil kembali. Apakah perasaan memiliki itu ada dalam hatiku. Dan tidak menerima ketika barang itu diambil kembali dengan cara yang tak terduga. Hehehe

Bisa saja ini adalah cara Allah untuk seberapa besar kesabaranku. Kehilangan ini terjadi ditengah aku sedang menulis naskah buku. Apakah ketika media untukku menulis dihilangkan aku akan mengeluh dan tidak menulis lagi? mencari-cari alasan karena kehilangan media untuk menulis. Menyalahkan kehilangan yang terjadi dan tak melanjutkan menulis jika tak ada laptop sebagai media menulis? bisa saja. hehe

Dan juga ini adalah salahku, tidak begitu memperhatikan barang berhargaku dengan seksama. Fokus dengan kegiatan membaca. Karena sudah biasa menaruh barang di atas, jadi terlalu menyepelekan.

Begitulah aku menyikapi kehilangan agar tidak terasa menyakitkan. Aku sudah mengikhlaskan. Tulisan aku buat bukan pertanda aku tidak menerima. Ini aku buat semoga bisa menjadi pelajaran untuk mereka atau yang sedang membaca ini ketika sedang merasakan masalah yang sama. Sedang merasakan musibah yang sama.

Untuk masalah yang terjadi dalam hidup kita, mari kita lihat dari sudut pandang yang berbeda. Agar kita bisa menerima apa yang terjadi dengan lapang dada. Menyadari bahwa yang terjadi itu ada pelajaran yang benar-benar berharga.

Kita harus menyikapi masalah dengan baik. Bila kita bereaksi yang tak seharusnya dalam suatu masalah atau musibah yang menimpa. Itu akan membuat hati kita jadi kacau. Karena kita salah dalam menyikapi masalah. Hati jadi kacau, pikiran kacau dan perasaan jadi tak menentu. Yang ada hanya membuat fisik jadi tak sehat nantinya karena pikiran pusing bukan main karena salah dalam menyikapi masalah.

Ini bagian satu, masih ada bagian lainnya. Aku ingin membahas tentang dia yang mengambil tasku. Dan mungkin bisa menyadarkan mereka yang ada niatan untuk berbuat hal serupa. Siapa tau, sang maling membaca. Tunggu juga tulisan selanjutnya.

hehehe

>

8.35pm, Bogor.
21 November 2016.

Untuk berkomunikasi dengan aku, bisa follow akun twitter @dayatpiliang dan akun instagram @dayat.piliang

sumber gambar: irmasenja.com

You Might Also Like

0 komentar

Silahkan berikan komentarmu

Powered by Blogger.