Topeng Monyet, Penonton Tertawa Monyet Tersiksa

Aktivitas saya menonton drama korea sedikit terganggung dengan suara musik dari sebuah gendang dan gamelan, saya bingung, kenapa ada ...


Aktivitas saya menonton drama korea sedikit terganggung dengan suara musik dari sebuah gendang dan gamelan, saya bingung, kenapa ada suara alat musik seperti itu dalam sebuah gang, siapa yang sedang mementaskan seni musik itu dalam sebuah gang kecil? karena rasa penasaran dan juga tak bisa dilanjutkan karena kerasnya suara musik daripada speaker laptop saya, sayapun memutuskan untuk menoleh keluar jendela, tak ada terlihat orang yang memainkan musik itu, hanya segerombolan anak-anak yang sedang menyaksikan, saya keluar dari ruangan kecil yang saya sewa itu.

Betapa kagetnya saya melihat apa yang ada diluar, saya mengira ada pertunjukan tarian daerah atau pertunjukkan musik tradisional saja, ternyata yang saya saksikan adalah pertunjukkan topeng monyet, ini bukan kali pertama saya melihat aksi topeng monyet, hanya saja saya kaget karena selama tiga tahun hidup dipulau bali, saya tak pernah menyaksikan aksi topeng monyet lagi yang mungkin hanya ada di Indonesia. 

Tinggi monyet itu hampir selutut orang dewasa (yang pendek). di lehernya terdapat sebuah rantai besi yang dikalungkan, juga ada tali tambang yang tersambung dengan rantai besi yang melilit lehet monyet tersebut. Monyet itu melakukan atraksinya, menaiki sepeda, menari dan melompat-lompat. Saya melihat anak-anak tertawa dan wajah mereka begitu senang melihat aksi topeng monyet itu.

Berbeda dari anak-anak yang melihat aksi monyet itu, saya justru begitu kasihan melihat seekor monyet yang dipaksa untuk melakukan atraksi hanya untuk mendapatkan sejumlah uang untuk majikannya. Terlihat jelas monyet itu sangat tersiksa dengan rantai besi yang melilit lehernya, monyet itu selalu saja meletakkan tangannya pada rantai besi itu, seolah-olah monyet itu ingin memberitau manusia yang sedang melihatnya bahwa ia begitu tidak nyaman dengan rantai besi yang ada dilehernya.

Monyet atau kera yang saya saksikan bukanlah kera yang sedang terkurung dan terpenjara dalam goa seperti kera sakti sun-gokong, kera yang saya saksikan merasakan udara bebas diruangan terbuka, tapi nasibnya lebih malang dari kera sakti sun-gokong, kera itu dipaksa untuk melakukan aksi demi uang dan demi menghibur manusia, leher kera itu dililir rantai besi, pawangnya dengan enak tanpa merasa bersalah menarik-narik tambang yang tersambung dengan rantai besi dilehernya itu, sungguh menyedihkan.

Andai dunia ini terbalik, andai saja kera-kera yang berjaya di dunia ini, kemudian mereka mengadakan aksi topeng manusia, kira-kira bagaimana rasanya? kita dipaksa untuk melakukan atraksi yang begitu menyiksa. Mereka hanya binatang yang tak berdosa, namun dijadikan alat untuk mencari uang dan disiksa seenaknya jika tidak menurut.

Entah apa yang terjadi dengan perasaan saya, dahulu ketika saya kecil, saya begitu senang melihat topeng monyet beraksi, tanpa merasa bersalah dan kasihan saya tertawa melihat aksi kera itu menaiki sepeda, bermain drum dan menari kesana kemari. Namun saat ini, saya tidak tega menyaksikan aksi topeng monyet itu.

Semoga saja manusia masih punya nurani kepada makhluk hidup lainnya.

======================================================

Semoga tulisan saya bisa memberikan manfaat kepada Anda, temui saya di social media;
Twitter: @dayatpiliang
Facebook: Dayat Piliang
Instagram: dayat.piliang

You Might Also Like

0 komentar

Silahkan berikan komentarmu

Powered by Blogger.