Vonis Autis Tanpa Data

Rantai Gajah Yang Menyiksa Sempat suatu waktu aku mendengar seseorang menyebut diriku "autis" secara tidak langsung. Entah apa...

Rantai Gajah Yang Menyiksa
Sempat suatu waktu aku mendengar seseorang menyebut diriku "autis" secara tidak langsung. Entah apa alasan dia berkata seperti itu. Apakah dia sudah melakukan riset dan observasi secara mendalam, hingga dia dengan mudah mem-vonis diriku ini "autis".

Seorang psikolog, tentu tidak bisa memberikan vonis gangguan apa yang diderita oleh klien-nya jika psikolog itu tak melakukan riset dan observasi secara mendalam. Intinya, mereka tak akan berbicara jika tidak ada data. Apalagi di masa sekarang ini, orang-orang harus bicara sesuai dengan data. Mungkin masih berlaku di ruang lingkup pekerjaan, belum merambah ke lingkungan pergaulan.

Tapi, aku mengerti mengapa orang itu mengatakan diriku "autis" dengan mudahnya. Ini disebabkan, karena dia melihat perbedaan dari dalam diriku. Aku menyadari adanya perbedaan dalam diriku diantara kebanyakan orang lain. Tapi perlu diingat. Berbeda, bukan berarti dia idiot, autis atau gila. Bisa saja itu caranya agar dia nyaman menjalani kehidupannya.

Beberapa poin keanehan dalam diriku ini mungkin menjadi penyebab orang-orang berkata aku "autis" atau ada gangguan jiwa.

MENYENDIRI DI TENGAH KERAMAIAN

Ini mungkin salah satu sebab orang mengganggap aku aneh. Aku suka menyendiri di tengah keramaian. Artinya, ketika banyak orang, aku akan membuka laptop atau gadget-ku, memasang earphone ke telinga dan memutar lagu kesukaanku, kemudian berpaling dari manusia yang ada disekitar.

Bukan anti sosial. Tapi, memang aku dulunya seperti itu. Semua ada maksudnya. Aku melakukan itu hingga kini juga ada sebabnya. Ini adalah caraku fokus pada sesuatu. Entah itu bekerja, menulis dan memikirkan sesuatu. Aku akan melakukan hal ini. Ketika ramai, aku akan menutup diri dari dunia dengan earphone yang terpasang di kedua telinga.

BERBICARA SENDIRI

Aneh memang dan memalukan untuk diceritakan. Tapi, aku tak mau ambil pusing dengan omongan orang. Akan aku jelaskan kenapa aku sering berbicara sendiri. Bertanya pada diri sendiri lalu menjawab pertanyaan itu sendiri. Mungkin keanehan ini adalah salah satu penyebab aku dikatakan autis dan gila.

Aku berbicara sendiri tentu tidak tanpa sebab. Ada alasan mengapa aku tektok-an sendiri dengan diriku. Ini adalah caraku berpikir. Ini adalah caraku menggali dan menangkap inspirasi agar tidak pergi.

Orang yang terbiasa dengan dunia tulis menulis, aku rasa banyak yang begini. Berbicara dengan dirinya sendiri. Hanya saja mungkin mereka tektokan dalam hati, sedang aku terang-terangan seperti itu sehingga banyak orang yang tau dan melihat perbedaan dalam diriku yang mereka tak terbiasa dan mengganggap ini adalah sebuah keanehan seperti gangguan jiwa.

MEMBACA KERAS DENGAN EKSPRESI

Tidak sekeras seperti yang kalian bayangkan, tetapi lebih ke membaca pelan ditambah dengan ekspresi dan nada ketika aku sedang membaca tulisan yang mengandung dialog.

Bagi beberapa orang yang tidak biasa, mungkin mereka akan menyebutnya keanehan. Tapi, aku begitu tentu ada alasannya. Karena, aku meyakini betul bahwa setiap individu ketika melakukan sesuatu, tentu ada alasan di baliknya. Sehingga mereka melakukan sesuatu itu. Tapi, beberapa ada yang tidak menyadari alasan kenapa dia melakukan, karena dia sudah terbiasa melakukan itu hingga melupakan alasannya. Dan ketika ditanya, apa alasan kamu melakukan itu, mereka bingung memberikan alasannya. Kemudian menjawab, "aku tidak tau" atau "tidak ada alasan"

Selain sebuah perilaku yang menjadi kebiasaan hingga menghilangkan alasan kenapa melakukan. Bisa jadi mereka tak ingin mengakui alasan itu, sehingga, mereka tak mau menggungkapkan alasan itu dan berlindung di balik kata "tidak ada alasan"

Alasan aku membaca dengan mengeluarkan suara pelan, menggunakan ekspresi dan nada dalam membacanya, ialah agar lebih mudah memahami dan meresapi arti tulisan yang sedang aku baca. Mereka yang tidak berpikir sama dengan-ku tidak mungkin akan mengerti. Dan mereka yang tidak terbiasa melihat orang seperti ini akan mengganggap ini adalah sebuah keanehan gangguan jiwa.

Yang jelas, menurut aku sendiri. Aku tidak gila. Karena ini adalah caraku agar lebih mudah mengerti arti tulisan. Dan caraku agar lebih semangat dalam membaca. Karena ada ekspresi dan nada-nada dalam membacanya. Jadi, aku tidak mudah mengantuk dan kemudian meninggalkan buku yang sedang aku baca.

Setiap orang punya cara sendiri. Dan tidak semua orang akan mengerti dengan cara-cara seseorang dalam menyikapi sesuatu.

Huhh..

Apalagi ya. Mungkin itu saja yang baru aku sadari. Entah apa lagi keanehan yang orang lain lihat pada diriku. Tapi, apapun itu, tentu ada alasan kenapa aku melakukannya. Bahkan, sebuah kebiasaan yang tak sadari aku lakukan, aku menyadari itu. Keburukan yang ada pada diriku, aku menyadari itu.

Kebiasaan buruk yang aku sadari, aku akan berusaha aku perbaiki. Yang tak bisa aku perbaiki, tetap akan berusaha memperbaikinya. Tapi, bila kebiasaan buruk itu sekiranya masih bisa ditolerir oleh orang-orang, maka aku akan mengatakan pada mereka agar mereka mentolerir sikap buruk yang sulit aku rubah. Bila sikap buruk itu tak dapat ditolerir oleh orang-orang, maka mau tak mau aku harus berusaha keras memperbaikinya.

Ini sajalah sekiranya tulisanku yang berjudul "Autis Tanpa Data". Semoga ada manfaat yang bisa diambil dari tulisan yang sepertinya lebih kecurahan isi hati.

Vonis tanpa data dari orang-orang terhadap diri kita, ini disebabkan karena mereka tak paham dengan diri kita, tapi mereka seolah sok paling paham tentang diri kita. Bagaimana bisa mereka paling paham dengan diri kita? sedang kita aja terkadang tidak memahami diri kita sendiri, karena diri kita juga sering berubah-ubah seiring bertambahnya usia, bertambahnya pengetahuan dan wawasan. Kenapa ada orang yang sok paling paham tentang diri kita, sedang mereka tak 24 jam berada di sisi kita.

Jadi, untukmu yang mengalami hal sama denganku. Atau sekiranya sejenis-lah pola cerita yang kau alami. Jangan berkecil hati hanya karena vonis tanpa data dari orang yang tidak betul-betul mengerti.

Jangan jadikan vonis tanpa data mereka menjadikan rantai gajah dalam pikiranmu. Sehingga kau minder menghadapi dunia. Jangan ya, jangan.

Untuk-mu yang suka memvonis orang tanpa data. Lebih baik hindarilah. Jelas ini tidak baik untuk orang lain. Meski kau hanya ngomong sekilas tanpa kau pikirkan dengan otak pintarmu itu, tapi ucapan itu bisa jadi rantai gajah yang menghambat proses masa depan cemerlang seseorang.

Mari kita hidup damai, dan menghargai perbedaan dan keanehan yang ada pada diri kita. Karena tentu kita memiliki keanehan  dalam diri kita.

Ya, seperti orang yang mengatakan aku "autis". Aku juga melihat keanehan yang ada dalam dirinya. Tapi, aku melihat dari sudut pandangku ketika orang melihat keanehan dalam diriku. Aku hanya mengatakan pada diriku, "mungkin itu caranya untuk fokus, nyaman dan bahagia."

Setiap orang yang mengerti akan sesuatu, pasti dia akan menanggapi dan menyikapinya dengan bijak. Yang tidak tau, mungkin mereka akan mencak-mencak atau risih dengan keanehan demi keanehan yang ada dalam diri orang lain tanpa menyadari bahwa orang-orang pun melihat keanehan dalam dirinya, tapi mereka memakluminya.

Dan, selesailah tulisan ini.

Tulisan ini aku buat dalam perjalanan menuju bandara soekarno-hatta dari kota bogor dengan menggunakan uber mobil, dibayari oleh kantor. Aku akan berangkat ke kota surakarta karena ada beberapa pekerjaan yang harus aku kerjakan di sana.

1.20pm, 8 Desember 2016
@ Tol Lingkar Luar, Jakarta.

sumber gambar: boykomarphoto

You Might Also Like

1 komentar

  1. menginspirasi sekali, setuju. Ada beberapa orang yang kurang paham bagaimana harus menghadapi "seseorang" yang lain atau lain kata "berbeda" dengan dirinya, seringkali juga menyebabkan kesenjangan sosial, padahal, semua itu sebenarnya hanya perbedaan sudut pandang sja

    ReplyDelete

Silahkan berikan komentarmu

Powered by Blogger.