Rindu Tak Sendiri

Rindu Sedihnya aku. Berulang kali patah hati dan saat ini terjadi lagi untuk kesekian kali. Tulisan sebelumnya, aku menceritakan ...

Rindu

Sedihnya aku. Berulang kali patah hati dan saat ini terjadi lagi untuk kesekian kali.

Tulisan sebelumnya, aku menceritakan tentang Rindu. Ya, Rindu adalah sebuah nama. Nama seorang wanita yang aku cinta. Sampai saat ini, perasaan itu-pun masih ada dalam hati. Entah kapan rasa ini kan hilang, aku tak tau. Yang aku tau, saat ini aku lagi sayang-sayangnya dengan wanita lebih tua namun cantik dan lucu itu.

Awal bekerja, dia mengakui bahwa dirinya single alias jomblo alias masih sendiri. Aku yang jatuhnya menjadi senior di kantor pun merasa sedikit bahagia mendengar fakta tentang statusnya. Seperti yang aku ceritakan di tulisan sebelumnya. Karena tak bisa mengungkapkannya secara langsung, aku pun membuat skenario cinta. Bagaimana aku akan mendekatkan diri padanya dan kemudian merencanakan membangun rumah tangga bersamanya.

Aku bahagia, benar-benar bahagia.

Hingga suatu ketika...

Ketika aku, dia dan teman-teman kantor berpiknik bersama di kebun raya, Bogor. Bahagia masih terasa. Kami berpiknik bersama. Memburu foto-foto terbaik dengan DSLR milik kantor untuk stok upload di akun instagram. Kami menghabiskan akhir pekan bersama, tertawa bersama. Masih bahagia, masih bahagia.

Hingga, bosan-pun mulai menghinggapi. Salah satu dari kami meminta pulang. Dan karena cuaca mendung sepertinya akan datang. Sip, semua setuju mengakhiri piknik. Beberapa ada yang pulang dan beberapa ada yang merencanakan melanjutkan menghabiskan akhir pekan di kafe tongkrongan. Kafe sederhana yang biasa aku datangi tuk menghabiskan malam hari-ku yang sepi. Aku salah satu yang ingin melalnjutkan menghabiskan akhir pekan dengan nongkrong di kafe. Ada juga Arief, Iim, dan juga Rindu.

Ya, Rindu ingin ikut, dan aku masih merasa bahagia. Teman-teman selebihnya, Panji dan Icha masih kebingungan memutuskan akan ikut atau tidak. Panji sepertinya ingin, tapi Icha yang kekeh minta pulang. Sekedar informasi saja, panji dan icha bukan pasangan yah.
Kami keluar kebun raya bogor masih dengan hati yang gembira. Kami menuju tempat motor di parkirkan. Letaknya di luar wilayah kebun raya. Tepatnya di tempat parkir rumah sakit PMI, rumah sakit terkenal di Kota Bogor. Tak perlu aku jelaskan alasan mengapa memarkirkan motor di situ. Aku tidak tau. Karena aku langsung datang ke kebun raya dengan berjalan kaki. Karena jarak antara kebun raya dan kosan-ku tak terlalu jauh jaraknya.

Di tengah jalan menuju parkiran, Rindu berkata, “Mas aku boleh ikut ga?”

Degg

Aku mencoba tak berpikiran aneh-aneh. Dalam pikiran-ku saat itu ialah, ia ditanyai oleh masnya atau kakaknya. Dan Rindu memutuskan tuk mengajaknya bergabung. Eh tapi, Rindu ini berdarah Bali. Setau aku, orang balik tak menyebut ‘mas’ tuk sebutan kakak. Dan yang aku tau juga, kakak Rindu itu bukan lelaki.

Singkatnya, kami sampai di tempat parkiran. Mengambil motor dan keluar dari area parkir.

Di luar, aku melihat Rindu berbincang dengan lelaki dengan jaket hitam dan perlengkapan berkendara yang lengkap. Disitu, sepertinya aku sudah bisa membaca. Lelaki itu, adalah kekasih-nya. Lelaki itu, adalah kekasih Rindu.

Tapi, lagi-lagi aku belum mengkonfrimasinya. Itu hanya sebatas prasangka. Dan harapan aku saat itu, semoga itu hanya sebatas prasangka saja. Tidak benar-benar nyata. Bila benar, pasti hati kan terluka.

Kami berangkat, menuju kafe yang kan dituju. Aku bersama teman-ku Arief. Panji bersama Icha, iim berkendara sendirian saja, dan Rindu menaiki motor lelaki itu. Kami berangkat.

Di tengah perjalanan. Semua kacau. Karena panji dan icha ternyata tak ingin ikutan, dan iim juga. Kami berpisah jalur, dan Rindu ternyata mengikuti rutenya panji, icha dan iim yang ingin pulang. Rencana nongkrong bersama-pun batal. Tapi, aku dan Arief melanjutkan ke tempat tujuan. Dan, menghabiskan akhir pekan di kafe sederhana itu.

Begitulah awalnya bagaimana aku tau ternyata hati Rindu telah dimiliki lelaki lain. Dan ke depannya, aku coba mengonfrimasi kebenarannya. Tidak secara langsung. Dan ternyata benar.

Padahal, skenario yang telah aku buat sudah mulai berjalan. Mengajak dia bisnis bersama. Berkolaborasi dengan keahlian yang kami punya. Dia menjadi fashion designernya dan aku bagian pemasarannya dan menciptakan strategi branding yang baik di social media. Ketika tau fakta itu, perih bukan main. Tapi, sebodo amat dengan fakta yang membuat aku terluka. Aku mencoba tuk abaikan saja rasa cinta dan untuk skenario berbisnis bersama itu tetap dilanjutkan bersama.

Sebenarnya, aku bingung. Apakah ini terjadi karena aku telat mengungkapkan perasaan, ataukah memang sedari awal dia telah memiliki pasangan. Tapi, aku sudah bertanya tentang ini. Dia-pun baru mengenal lelaki itu. Lelaki yang ia sebut dengan sebutan ‘mas’. Ah, mungkin luka ini terjadi karena kesalahanku yang begitu bodoh, begitu lambat mengungkapkan perasaan cinta padanya

Dan aku mulai bingung dengan alur cerita ini. Bingung memilih kata tuk cerita ini. Karena ada beberapa bagian yang terlupa dan perlu aku ingat kembali. Seharusnya, aku menuliskan saja tentangnya sejak awal pertama mengenal dia. Agar semua terekam jelas di setiap tulisan-tulisan-ku. Dan aku bisa mengenangnya dengan senyuman terukir di wajah-ku.

Mendengar fakta baru bahwa ia tak sendiri, bahwa ia memiliki kekasih, benar-benar melukai hati. Padahal, sebelumnya hati-ku sudah terluka. Dan aku mulai berani meladeni kembali rasa cinta yang setelah ku yakini benar-benar cinta bukan rasa kagum sementara karena kecantikan paras wanita. Tapi, ternyata, aku kecewa lagi. Kenapa? aku tau jawabnya. Tapi akan aku tuliskan di postingan selanjutnya, tak di postingan ini.

Sekian deh, aku mulai gelisah karena menjelang jam pulang kantor, aku belum menyelesaikan tugas kantor.
Sungguh, Rindu ternyata tidak sendiri. Rindu memiliki seorang kekasih. Ahhh, hati terasa perih.


3.33 WIB / 3 Oktober 2016.
@ Keke Busana Office, Bogor.

You Might Also Like

0 komentar

Silahkan berikan komentarmu

Powered by Blogger.