Kembali Menjadi Aku Yang Dulu

Hehe Aku kembali menjadi pendiam, penyendiri dan anti sosial. Ya, itulah aku yang dahulu. Dan kini. Aku kembali menjadi seperti...

Hehe


Aku kembali menjadi pendiam, penyendiri dan anti sosial.

Ya, itulah aku yang dahulu. Dan kini. Aku kembali menjadi seperti itu. Setidaknya hanya di lingkungan kantorku saja. Suasana sudah mulai tidak asik menurutku. Sebenarnya sejak dulu, tapi belakangan ini benar-benar membosankan dan tak mengasyikkan.

Salah satu faktornya sebenarnya karena kesalahanku. Membuat wanita yang aku cintai di mana cintaku bertepuk sebelah tangan terluka hatinya. Karena tindakan tololku terlalu lebay hingga semua orang tau tentang kisahku. Dan wanita itu, mungkin merasa malu. Atau mungkin ada alasan yang tidak aku tau. Entahlah, hanya dia dan tuhan yang tau apa maksud dari kemarahannya pada waktu itu.

Beberapa orang mengatakan marahnya untuk kesalahanku yang satu itu cukup lebay. Ya, karena semua orang menganggap itu hiburan ringan saja. Mungkin, wanita itu tak mau seperti itu. Menjadi bahan candaan dan obrolan ringan sebagai hiburan. Aku tak memahami yang satu ini. Bukan, ini bukan sebuah pembelaan diri. Ini kesalahanku, aku akui. Sikapnya begitu aku-pun mengerti. Sudah berulang kali aku melakukan kesalahan yang sangat kekanak-kanakan. Mungkin karena kesalahan yang berulang-ulang membuatnya tak bisa bersabar lagi dengan sikapku. Dan kini dia marah dan menjauhiku.

Suasana menjadi canggung.

Aku memutuskan untuk menjadi pendiam, penyendiri dan anti sosial di kantor kini. Menjadi orang yang asing dan tak asyik lagi. Biarlah. Aku juga sudah bosan. Dan aku begini supaya bisa lekas melupakannya. Melupakan rasa cinta-ku padanya. Menghilangkan rasa suka-ku padanya dan menghapus segala kenangan tentang dia dari dalam kepala.

Aku belum bisa menyikapi dan mengendalikan situasi yang canggung ini.

Esok hari setelah kejadian ketololan yang aku perbuat. Aku bertemu dia di kantor. Jelas, kami bekerja di perusahaan yang sama. Hari itu, aku coba berkomunikasi dengannya. Dan dia mengabaikan aku. Dia membuang muka padaku dan menghindari-ku. Berkali-kali aku ajak komunikasi tapi dia tetap saja mengabaikan aku.

Bertanya aku pada salah satu rekan kerjaku, sebenarnya jawabannya aku tau. Aku hanya butuh teman untuk mengobrol saja. Aku tanya, ‘gimana ya ini, dia ga mau bicara sama aku’. Aku tau harus melakukan apa untuk saat ini. Yang aku perlukan mendiamkannya sesaat. Membiarkan dia menenangkan pikirannya untuk sementara ini dari amarah yang sudah tak bisa dikendalikan lagi malam itu karena ketololan-ku yang luar biasa menyebalkan.

Aku mendiamkan sesaat. Hari itu hari jum’at. Esoknya hari sabtu dan minggu. Hari libur. Maka dua hari itu aku tidak bertemu dengan wanita itu. Kemudian, senin aku mengambil cuti. Bukan, bukan tuk menghindar, karena aku memang ada urusan yang harus dilaksanakan. Esoknya hari selasa, aku tak masuk kantor, bukan cuti lagi, tapi memang ada tugas tuk bekerja di luar kantor. Maka, selama empat hari berturut-turut aku tak bertemu dengannya. Dan ketika hari rabu tiba. Aku masuk kerja seperti biasanya. Dan mendadak moodku jelek. Aku menjadi pendiam, penyendiri dan anti sosial di kantor. Sampai saat ini.

Aku sedang berpikir bagaimana cara memulai komunikasi lagi dan memperbaiki situasi ini.

Tidak, tidak bisa seperti ini terus.

Tapi aku harus mulai dari mana. Suasana benar-benar sangat canggung saat ini. Uhh
Sial banget ya. Kenapa pas hari rabu itu moodku mendadak rusak dan mendiamkan semua yang ada di sana? Harusnya aku tak begitu. Dan sekarang rasakan lah diriku. Karenamu, suasana canggung. Bukan suasana kantor sih, tapi hanya suasana dirimu, wanita itu dan beberapa rekan kantormu. 

Uhhh

Ya, aku mengerti mengapa aku jadi seperti ini. Itu karena, si wanita yang aku cintai itu kini sepertinya telah membenciku. Dan tak ada harapan bagiku, sama sekali tuk bisa dekat dengannya. Pasti si wanita itu akan lebih menjaga jaraknya denganku dan aku yang mencintainya seorang diri hanya akan terus tersakiti. Maka, lebih baik aku begini. Dan mungkin karena itulah aku jadi seperti ini. Seperti awal.

Aku telah kehilangan alasan tuk bahagia. Lagi dan lagi. Sudah berulang kali. Dan setiap aku kehilangan sebuah alasan yang bikin aku bahagia. Maka aku kembali menjadi sepeti ini. Menjadi seseorang yang moody. 

Ya, dia alasan aku berbahagia dan tampil penuh keceriaan dengan canda dan tawa. Bila alasan itu telah hilang, bagaimana aku bisa melakukan hal-hal itu lagi? Bukankah percuma? Tak ada alasan bagiku tuk melakukannya lagi.
Aku kembali menjadi dayat yang dulu. Pendiam, penyendiri dan anti-sosial. Serta moody. 

Ya sudahlah yah, sekian aja deh.

9:15PM / 20 Oktober 2016
@ The Angkringan Cafe (STALLO), Bogor.

Sumber gambar: Samuel Zeller/Allfreestock

You Might Also Like

0 komentar

Silahkan berikan komentarmu

Powered by Blogger.